Tragedi Pilu di Bali: Bocah SD Nekat Gantung Diri dan Balita Tewas Dicekik Ayah
Peristiwa memilukan yang mengguncang nurani publik baru-baru ini terjadi di Pulau Dewata, di mana rentetan Tragedi anak di Bali menjadi pengingat keras bagi seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya kesehatan mental dan perlindungan buah hati di dalam lingkungan keluarga. Kabar mengenai seorang bocah sekolah dasar (SD) yang nekat mengakhiri hidup serta seorang balita yang tewas di tangan ayahnya sendiri telah menciptakan duka mendalam bagi warga setempat. Kejadian ini menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga aparat keamanan untuk lebih proaktif dalam mendeteksi potensi konflik domestik yang dapat berujung pada hilangnya nyawa anak-anak yang tidak berdosa.
Berdasarkan data yang dihimpun pada Rabu, 11 Februari 2026, peristiwa pertama terjadi di wilayah Kabupaten Karangasem, di mana seorang anak laki-laki berusia 11 tahun ditemukan tidak bernyawa oleh pihak keluarga di dalam kamarnya. Aparat kepolisian dari Polres Karangasem segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna memastikan penyebab pasti kematian tersebut. Petugas kepolisian menyatakan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan luar, yang memperkuat dugaan bahwa korban nekat mengambil langkah ekstrem akibat tekanan psikologis yang terpendam. Tragedi anak di Bali ini sangat disayangkan mengingat korban merupakan siswa yang dikenal tenang di sekolahnya, sehingga memicu diskusi luas mengenai perlunya layanan konseling mental bagi anak-anak sejak dini di tingkat sekolah dasar.
Hampir bersamaan, kabar kelam lainnya datang dari wilayah Denpasar Selatan, di mana seorang balita berusia 3 tahun ditemukan tewas mengenaskan. Berdasarkan keterangan petugas kepolisian dari Polresta Denpasar, hasil autopsi menunjukkan adanya bekas cekikan pada leher korban yang diduga kuat dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri dalam sebuah kemelut rumah tangga. Pelaku saat ini telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan intensif terkait kondisi kejiwaannya. Kasat Reskrim yang bertugas di lapangan menegaskan bahwa penegakan hukum akan dilakukan secara tegas, namun pihaknya juga mengimbau agar masyarakat sekitar lebih peka terhadap dinamika tetangga guna mencegah Tragedi anak di Bali serupa terulang kembali di masa depan.
Di tengah suasana duka ini, muncul gelombang solidaritas positif dari berbagai komunitas sosial dan perlindungan anak di Bali. Dinas Sosial setempat bersama unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Bali mulai mengintensifkan program sosialisasi “Rumah Aman” bagi keluarga yang mengalami krisis ekonomi maupun psikologis. Langkah ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para orang tua untuk mencari bantuan sebelum emosi yang tidak stabil berdampak buruk pada anak-anak.


